Church roof 1837728 1280 (1)
IDENTIFIKASI PROPOSAL 1.             Judul      : Teknik  Dewatering  Untuk  Mitigasi  Banjir  Lumpur (Wet                                      Muck) PT. Freeport Indonesia. 2.             Tim Riset : 2.1.       Ketua Tim Peneliti : a.  Nama lengkap : Dr. Dasapta Erwin Irawan b. Jabatan fungsional/golongan : Lektor c. NIP : 19760417 200801 1 007 d. Fakultas/Sekolah : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian e. Kelompok keahlian : Geologi Terapan f. Alamat : Kota Baru Parahyangan 2.2. Anggota Tim Peneliti :1. Nama Lengkap                             : Dr.Ir.Lilik Eko Widodo ,M.S     Bidang Keahlian                           : Hidrogeologi    Unit Kerja/Lembaga                  :  FTTM    Alokasi Waktu (Jam/Mg)          : 5 Jam/Minggu    Alokasi Waktu (Bualan)            : 10 Bulan2. Nama Lengkap                             : Dr.Arno Dwi Kuncoro       Bidang Keahlian                           : Hidrolagi    Unit Kerja/Lembaga                  :  FTSL    Alokasi Waktu (Jam/Mg)          : 5 Jam/Minggu    Alokasi Waktu (Bualan)            : 10 Bulan 2.3 Asisten Peneliti/ Mahasiswa 1. Nama Lengkap                             : Felice Deglardini Wopari     Bidang Keahlian                           : Hidrogeologi    Alokasi Waktu (Jam/Mg)          : 5 Jam/Minggu    Alokasi Waktu (Bualan)            : 10 Bulan
      PENGANDALIAN WET MUCK PADA WILAYAH  PENAMBANGAN BAWAH TANAH  PT.FREEPORT INDONESIA                                                                                          BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latarar Belakang                         PT.Freeport Indonesia merupakan perusahaan tambang emas dan tembaga yang berlokasi di Indonesia yang terletak di pegunungan Jayawijaya (Sudirman), antara Distrik Tembagapura Kabupaten Mimika dan juga Distrik Illaga Kabupaten Puncak Provinsi.  Sistem Penambangan terdiri dari  penambangan terbuka  dan penambangan bawah tanah. Pada area tambang bawah tanah yaitu  Deep Ore Zone (DOZ) ) dengan sistem penambangan bertipe runtuhan (block caving) yang memproduksi  bijih mineral logam dengan  produk utama berupa tembaga (Cu) dan Emas (Au).  Pada area  sistem penambangan Block Caving ini terdapat area  subsidence yang mana membentuk sebuah daerah tangkapan air atau  catchmane area yang berakumulasi dalam waktu tertentu sehingga terkontaminasi dengan cadangan bijih dan membentuk zona tertentu menjadi lumpur basah (Wet Much).                         Wet Muck  adalah campuran ukuran butiran  dari material berbutir halus dan air yang mana dapat mengalirkan material secara tiba-tiba keluar  akibat  dari  penggalian tambang bawah tanah (Widijanto.E & Syaifullah.T,  2008). Wet Muck dapat  terjadi ketika   material lebih dari 20% dari partikel pasir ukuran (<2mm) dengan kandungan  air lebih besar dari 8,5% atau lebih dari 80% saturasi (CNI et al, 77  1998) sehingga  beresiko  terjadiya Spill Out yaitu luncuran material basah dari draw-point saat material/mucknya melewati tengah panel dan sampai ke rib dengan ketinggian lebih dari 30 cm.  Berdasarkan informasi yang didapatkan  penyebab  terjadinya wet muck adalah Berasal dari material hasil penambangan, Meningkatnya jumlah air yang berasal dari Sumber air alami yaitu curah hujan tinggi di daerah tangkapan air dan daerah resapan, dan  juga  berasal dari  air tanah  di sekeliling  area penambangan  yang masuk ke dalam area penambangan.                         Kejadian terjadi lumpur basah (wet much) telah mengakibatkan beberapa peristiwa  dalam rentang waktu Januari 2008- Mei 2016 yaitu berjumlah 409 kejadian luncuran lumpur (UG Geotech, 2016), diantaranya pada tanggal 18 April 2011 (night shift) di tambang DOZ 2 orang meninggal tertimbun wet muck (personnel injuries – fatality). Selain terjadi korban jiwa mengakibatkan menurunnya tingkat produksi. Berdasarkan hasil  pemeriksaan  block coving yang dilakukan pada tanggal 19 Juli 2017 di bidang Pondasi air di Decline Ramp 3535 /L meningkat dibandingkan dengan inspeksi sebelumnya karena pompa air telah rusak,  Pondasi air pada drift conveyor G9 meningkat dalam volume dibandingkan dengan  sebelumnya dan menghalangi akses.                         Keselamatan dan Kemanan Kerja  merupakan hal yang sangat perting untuk menunjang proses penambangan, baik dari Keselamatan Kerja Karyawan  dan  optimalisasi keamanan lingkungan kerja dengan minimalisir resiko kecelakaan yang mungkin terjadi, baik kecelakaan kerja maupun dari kondisi area tambang.   Dari peristiwa  yang  terjadi maka sangat dibutuhkan   penanganan dan pengendalian  terhadap terjadinya  lumpur basah dengan melakukan analisis  faktor penyebab terjadinya lumpur basah, mengetahui seberapa besar pengaruh air tanah dan air permukaan yang masuk ke area penambangan dan  metode yang tepat untuk memisahkan air dari cebakan bijih sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya lumpur basah.        
                                PENGANDALIAN WET MUCK PADA WILAYAH  PENAMBANGAN BAWAH TANAH  PT.FREEPORT INDONESIA                                                                                                                                 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latarar Belakang                         PT.Freeport Indonesia merupakan perusahaan tambang emas dan tembaga yang berlokasi di Indonesia yang terletak di pegunungan Jayawijaya (Sudirman), antara Distrik Tembagapura Kabupaten Mimika dan juga Distrik Illaga Kabupaten Puncak Provinsi.  Sistem Penambangan terdiri dari  penambangan terbuka  dan penambangan bawah tanah. Pada area tambang bawah tanah yaitu  Deep Ore Zone (DOZ) ) dengan sistem penambangan bertipe runtuhan (block caving) yang memproduksi  bijih mineral logam dengan  produk utama berupa tembaga (Cu) dan Emas (Au).  Pada area  sistem penambangan Block Caving ini terdapat area  subsidence yang mana membentuk sebuah daerah tangkapan air atau  catchmane area yang berakumulasi dalam waktu tertentu sehingga terkontaminasi dengan cadangan bijih dan membentuk zona tertentu menjadi lumpur basah (Wet Much).                         Wet Muck  adalah campuran ukuran butiran  dari material berbutir halus dan air yang mana dapat mengalirkan material secara tiba-tiba keluar  akibat  dari  penggalian tambang bawah tanah (Widijanto.E & Syaifullah.T,  2008). Wet Muck dapat  terjadi ketika   material lebih dari 20% dari partikel pasir ukuran (<2mm) dengan kandungan  air lebih besar dari 8,5% atau lebih dari 80% saturasi (CNI et al, 77  1998) sehingga  beresiko  terjadiya Spill Out yaitu luncuran material basah dari draw-point saat material/mucknya melewati tengah panel dan sampai ke rib dengan ketinggian lebih dari 30 cm.  Berdasarkan informasi yang didapatkan  penyebab  terjadinya wet muck adalah Berasal dari material hasil penambangan, Meningkatnya jumlah air yang berasal dari Sumber air alami yaitu curah hujan tinggi di daerah tangkapan air dan daerah resapan, dan  juga  berasal dari  air tanah  di sekeliling  area penambangan  yang masuk ke dalam area penambangan.                         Kejadian terjadi lumpur basah (wet much) telah mengakibatkan beberapa peristiwa  dalam rentang waktu Januari 2008- Mei 2016 yaitu berjumlah 409 kejadian luncuran lumpur (UG Geotech, 2016), diantaranya pada tanggal 18 April 2011 (night shift) di tambang DOZ 2 orang meninggal tertimbun wet muck (personnel injuries – fatality). Selain terjadi korban jiwa mengakibatkan menurunnya tingkat produksi. Berdasarkan hasil  pemeriksaan  block coving yang dilakukan pada tanggal 19 Juli 2017 di bidang Pondasi air di Declin
                                  PENGANDALIAN WET MUCK PADA WILAYAH  PENAMBANGAN BAWAH TANAH  PT.FREEPORT INDONESIA                                                                                                              BAB I PENDAHULUAN1.1.Latarar Belakang                        PT.Freeport Indonesia merupakan perusahaan tambang emas dan tembaga yang berlokasi di Indonesia yang terletak di pegunungan Jayawijaya (Sudirman), antara Distrik Tembagapura Kabupaten Mimika dan juga Distrik Illaga Kabupaten Puncak Provinsi.  Sistem Penambangan terdiri dari  penambangan terbuka  dan penambangan bawah tanah. Pada area tambang bawah tanah yaitu  Deep Ore Zone (DOZ) ) dengan sistem penambangan bertipe runtuhan (block caving) yang memproduksi  bijih mineral logam dengan  produk utama berupa tembaga (Cu) dan Emas (Au).  Pada area  sistem penambangan Block Caving ini terdapat area  subsidence yang mana membentuk sebuah daerah tangkapan air atau  catchmane area yang berakumulasi dalam waktu tertentu sehingga terkontaminasi dengan cadangan bijih dan membentuk zona tertentu menjadi lumpur basah (Wet Much).                        Wet Muck  adalah campuran ukuran butiran  dari material berbutir halus dan air yang mana dapat mengalirkan material secara tiba-tiba keluar  akibat  dari  penggalian tambang bawah tanah (Widijanto.E & Syaifullah.T,  2008). Wet Muck dapat  terjadi ketika   material lebih dari 20% dari partikel pasir ukuran (<2mm) dengan kandungan  air lebih besar dari 8,5% atau lebih dari 80% saturasi (CNI et al, 77  1998) sehingga  beresiko  terjadiya Spill Out yaitu luncuran material basah dari draw-point saat material/mucknya melewati tengah panel dan sampai ke rib dengan ketinggian lebih dari 30 cm.  Berdasarkan informasi yang didapatkan  penyebab  terjadinya wet muck adalah Berasal dari material hasil penambangan, Meningkatnya jumlah air yang berasal dari Sumber air alami yaitu curah hujan tinggi di daerah tangkapan air dan daerah resapan, dan  juga  berasal dari  air tanah  di sekeliling  area penambangan  yang masuk ke dalam area penambangan.                        Kejadian terjadi lumpur basah (wet much) telah mengakibatkan beberapa peristiwa  dalam rentang waktu Januari 2008- Mei 2016 yaitu berjumlah 409 kejadian luncuran lumpur (UG Geotech, 2016), diantaranya pada tanggal 18 April 2011 (night shift) di tambang DOZ 2 orang meninggal tertimbun wet muck (personnel injuries – fatality). Selain terjadi korban jiwa mengakibatkan menurunnya tingkat produksi. Berdasarkan hasil  pemeriksaan  block coving yang dilakukan pada tanggal 19 Juli 2017 di bidang Pondasi air di Decline Ramp 3535 /L meningkat dibandingkan dengan inspeksi sebelumnya karena pompa air telah rusak,  Pondasi air pada drift conveyor G9 meningkat dalam volume dibandingkan dengan  sebelumnya dan menghalangi akses.                        Keselamatan dan Kemanan Kerja  merupakan hal yang sangat perting untuk menunjang proses penambangan, baik dari Keselamatan Kerja Karyawan  dan  optimalisasi keamanan lingkungan kerja dengan minimalisir resiko kecelakaan yang mungkin terjadi, baik kecelakaan kerja maupun dari kondisi area tambang.   Dari peristiwa  yang  terjadi maka sangat dibutuhkan   penanganan dan pengendalian  terhadap terjadinya  lumpur basah dengan melakukan analisis  faktor penyebab terjadinya lumpur basah, mengetahui seberapa besar pengaruh air tanah dan air permukaan yang masuk ke area penambangan dan  metode yang tepat untuk memisahkan air dari cebakan bijih sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya lumpur basah.     
                            PENGANDALIAN WET MUCK PADA WILAYAH  PENAMBANGAN BAWAH TANAH  PT.FREEPORT INDONESIA                                                                                                              BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latarar Belakang                         PT.Freeport Indonesia merupakan perusahaan tambang emas dan tembaga yang berlokasi di Indonesia yang terletak di pegunungan Jayawijaya (Sudirman), antara Distrik Tembagapura Kabupaten Mimika dan juga Distrik Illaga Kabupaten Puncak Provinsi.  Sistem Penambangan terdiri dari  penambangan terbuka  dan penambangan bawah tanah. Pada area tambang bawah tanah yaitu  Deep Ore Zone (DOZ) ) dengan sistem penambangan bertipe runtuhan (block caving) yang memproduksi  bijih mineral logam dengan  produk utama berupa tembaga (Cu) dan Emas (Au).  Pada area  sistem penambangan Block Caving ini terdapat area  subsidence yang mana membentuk sebuah daerah tangkapan air atau  catchmane area yang berakumulasi dalam waktu tertentu sehingga terkontaminasi dengan cadangan bijih dan membentuk zona tertentu menjadi lumpur basah (Wet Much).                         Wet Muck  adalah campuran ukuran butiran  dari material berbutir halus dan air yang mana dapat mengalirkan material secara tiba-tiba keluar  akibat  dari  penggalian tambang bawah tanah (Widijanto.E & Syaifullah.T,  2008). Wet Muck dapat  terjadi ketika   material lebih dari 20% dari partikel pasir ukuran (<2mm) dengan kandungan  air lebih besar dari 8,5% atau lebih dari 80% saturasi (CNI et al, 77  1998) sehingga  beresiko  terjadiya Spill Out yaitu luncuran material basah dari draw-point saat material/mucknya melewati tengah panel dan sampai ke rib dengan ketinggian lebih dari 30 cm.  Berdasarkan informasi yang didapatkan  penyebab  terjadinya wet muck adalah Berasal dari material hasil penambangan, Meningkatnya jumlah air yang berasal dari Sumber air alami yaitu curah hujan tinggi di daerah tangkapan air dan daerah resapan, dan  juga  berasal dari  air tanah  di sekeliling  area penambangan  yang masuk ke dalam area penambangan.                         Kejadian terjadi lumpur basah (wet much) telah mengakibatkan beberapa peristiwa  dalam rentang waktu Januari 2008- Mei 2016 yaitu berjumlah 409 kejadian luncuran lumpur (UG Geotech, 2016), diantaranya pada tanggal 18 April 2011 (night shift) di tambang DOZ 2 orang meninggal tertimbun wet muck (personnel injuries – fatality). Selain terjadi korban jiwa mengakibatkan menurunnya tingkat produksi. Berdasarkan hasil  pemeriksaan  block coving yang dilakukan pada tanggal 19 Juli 2017 di bidang Pondasi air di Decline Ramp 3535 /L meningkat dibandingkan dengan inspeksi sebelumnya karena pompa air telah rusak,  Pondasi air pada drift conveyor G9 meningkat dalam volume dibandingkan dengan  sebelumnya dan menghalangi akses.                         Keselamatan dan Kemanan Kerja  merupakan hal yang sangat perting untuk menunjang proses penambangan, baik dari Keselamatan Kerja Karyawan  dan  optimalisasi keamanan lingkungan kerja dengan minimalisir resiko kecelakaan yang mungkin terjadi, baik kecelakaan kerja maupun dari kondisi area tambang.   Dari peristiwa  yang  terjadi maka sangat dibutuhkan   penanganan dan pengendalian  terhadap terjadinya  lumpur basah dengan melakukan analisis  faktor penyebab terjadinya lumpur basah, mengetahui seberapa besar pengaruh air tanah dan air permukaan yang masuk ke area penambangan dan  metode yang tepat untuk memisahkan air dari cebakan bijih sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya lumpur basah.